Tinggal Menghitung Hari

Kelompok Master Mind Cikarang 1 akhirnya dilaksanakan di rumah pak Sangadi Budi. Inilah acara MM yang pertama kali diadakan pada malam hari, biasanya diadakan pada pagi hari dan dicoba dilaksanakan pada malam hari untuk mengetahui, sebenarnya yang paling efektif MM sebaiknya dilaksanakan saat apa.

Beberapa pertemuan sebelumnya memang sudah dicoba untuk melaksanakan MM dengan ebrbagai kondisi yang berbeda-beda. Baik tempatnya, waktunya, jumlah pesertanya maupun model pertemuannya.

Tak terasa salah satu target peserta MMC1 ini sudah tinggal menghitung hari saja. Sebuah target sederhana tapi ternyata banyak mengalami kendala karena waktu yang hanya 24 jam sehari dan 7 hari seminggu.

Targetnya hanya membuat sebuah kumpulan cerita dari beberapa tulisan yang ada pada blog eshape, tapi ternyata sampai menjelang hari H-nya masih juga belum terlihat terkumpul.

Hari H itu adalah tanggal 13 September 2009 [maju sehari dari target awal] dan sudah tidak bisa ditawar-tawar lagi. Tempat sudah disediakan dan susunan acara sudah selesai dibuat, tinggal materi acara saja yang belum terlihat, yaitu sebuah kumpulan tulisan dari blog eshape.

Judul buku itupun sampai sekarang masih belum terlintas di pikiran. Awalnya judul yang terlintas adalah Dongeng Pak Dhe, tapi banyak masukan yang meminta judulnya dianti dengan judul yang lebih “menjual”. Ada terlintas untuk mengganti judul menjadi Kisah Hikmah, tetapi masih belum “sreg” juga.

Jadi pada intinya, belum ada materi yang siap untuk acara launching buku tanggal 13 September 2009 itu. Justru yang terjadi adalah siapnya materi untuk acara-acara lainnya.

Begitulah tantangan dalam hidup yang sangat menggairahkan ini. Aku sendiri kok heran masih saja optimis bahwa tanggal itu aku akan mempunyai sebuah buku saku yang bisa dibawa kemanapun pergi dengan enak dan siap menemani siapapun yang sedang butuh bacaan ringan dan “berisi”.

Ada keinginan untuk menyerahkan buku yang sudah jadi itu ke beberapa orang yang ahli menulis, misalnya Emha, Arswendo atau bahkan pak KK, tetapi kalau bukunya saja belum ada bagimana mau menyerahkannya pada mereka?

Hehehe…kalau kang Pepih membaca tulisan ini pasti dia geleng-geleng kepala. Kok ada orang seaneh ini, begitu mungkin pikirnya. Masalah kecil kok dibuat besar, lha kalau menemui masalah besar apa mau dikecilkan?

Yang jelas masih terngiang di telinga adalah ucapan salah satu peserta pertemuan itu,”Jangan jadikan kesibukanmu sebagai alasan untuk menunda peluncuran buku ini”.

Iya deh, kalau memang harus perlu waktu khusus, kenapa tidak minta cuti dan minta “pause” dari semua acara yang tidak berhubungan dengan acara peluncuran buku ini?

Pertemuan terus berlangsung dan meski tidak semua peserta mendapat kesempatan untuk menyampaikan mimpi dan kendalanya, tapi terlihat semua peserta merasa puas dengan acara malam ini.

“Ternyata acara MM malam hari oke juga ya…”, begitu kesan mereka.

Selain cerita tentang warung makan Sunda [Pondok Rasa Gardenville] yang seru, bisnis Sabun Curah yang terus meningkat omzetnya [sampai kewalahan sendiri dan harus resign bulan depan], maka acara pada malam hari itu juga mempunyai topik bahasan bisnis Usaha Bersama Cimart.

Akselerasi yang diperlukan oleh CiMart adalah sebagai berikut :

1, Adanya penugasan yang lebih fokus untuk direktur operasional dan dibuat secara tertulis, sehingga semua roda “pemerintahan” toko Cimart benar-benar berada pada satu komando saja.
2. Adanya tindakan pro aktif dari penjaga toko Cimart untuk melakukan pengiriman barang ke anggota. Angkat telpon ke semua anggota yang terjangkau jaraknya dan tanyakan kebutuhan apa yang bisa diantar pada hari ini.
3. Diberlakukan model insentif bagi penjaga toko, misalnya penjualan melebihi XX juta per bulan, maka mereka akan mendapat YY persen dari keuntungan penjualan.

Selain tiga hal di atas, masih banyak masukan untuk percepatan pertumbuhan Usaha Bersam Cimart. Kita lihat saja, masukan yang mana yang akan dibahas di UB Cimart.

Malampun akhirnya makin larut dan obrolan warung kopi ini harus segera diselesaikan.

Salam FUNtastic.

Published in: on Agustus 9, 2009 at 10:44 pm  Comments (1)  
Tags: , , , ,

The URI to TrackBack this entry is: https://mmc1.wordpress.com/2009/08/09/tinggal-menghitung-hari/trackback/

RSS feed for comments on this post.

One CommentTinggalkan komentar

  1. buku? waduh, ini impianku sejak sebelum lahir dulu. pengin bisa nulis buku. buku apa aja. sayang,yang tertuang hanya catatan harian tanpa makna.

    soal dongengan pak dhe, sangat setuju sekali kalau mau dibukukan. di susun rapi, tag by tag, bab by bab, peristiwa demi peristiwa, langkah demi langakah, trus,….. apa lagi ya. pokoknya ya demi demi demi gitu lah…

    judul, boleh saja asal comot. soal berdaya jual atau tidak, sebenarnya tergantung mromosiin nya sih. contoh saja kayak “i love you full”nya mbah surip bisa menjadi kalimat super super duper tuch.

    jejak langkah pemimpi memang layak diabadikan. untuk menebar rahmat tentusaja. jadi, kenapa mesti ditunda? segera bukukan, soal judul belakangan,yang penting naskah udah jadi, rapi, terstruktur.

    hmmm, judul “para pengejar mimpi” boleh juga tuch di jadiin judul. tag kerennya jadi ppm. bukan part per million loh ya, tapi para pengejar mimpi. he..he.he… kalau ada gambar cicak mau nyaplok srengenge aku taruh di komentar ini nih. sayang aja ga da. “ini lah ppm, cecak nguntal srengenge. dan, bisa!”


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: